Kacier Kusuma's Blog
where I share my knowledge useful

Aman Issa, Mantan Tentara Heiho yang Terdampar di Thailand

99085largeObati Kangen Indonesia, Nonton Bulu Tangkis

Masa penjajahan membuat banyak orang Indonesia tersebar. Salah satu di antaranya di Thailand. Beberapa orang anggota Heiho terdampar di negeri itu karena ikut perang bersama Jepang. Aman adalah satu-satunya mantan tentara Heiho yang tersisa di Bangkok.

AGUNG PUTU ISKANDAR, Bangkok

RUMAH Aman berada di kampung Samrong, Samrong Nue atau Samrong Utara, Provinsi Samutprakan, Thailand. Sekitar 50 kilometer dari pusat kota Bangkok. Kampung tersebut adalah perumahan sederhana, namun cukup bagus. Umumnya para penghuninya adalah kalangan menengah.

Saat mendatangi rumah Aman pekan lalu, Jawa Pos didampingi Kamron Naradjebhusit, anak kedua Aman. Kamron paham dan bisa berbicara bahasa Indonesia, meski tak terlalu sempurna. ”Tunggu, duduk di sini. Saya akan panggil bapak saya, Aman,” kata Kamron, lantas mempersilakan untuk menunggu di salah satu rumah keponakan Kamron.

Aman, rupanya, lelaki yang ramah. Dia bahkan sangat ”haus” bertemu dengan orang-orang dari Indonesia. Saat masih berada di jalan menuju rumah tempat Jawa Pos menunggu, lelaki 87 tahun itu langsung berteriak keras. ”Ada tamu dari mana,” teriak Aman. Padahal, belum juga dia sampai di rumah tersebut.

Begitu bertemu, Aman langsung menyalami dan memeluk Jawa Pos. Dia mengenakan batik cokelat dan sarung kotak-kotak biru. Batik yang dikenakan Aman bukan ”batik” Thailand, tapi batik Garut. ”Pak Aman diberi orang di Embassy,” katanya.

Saat bertemu dengan Jawa Pos, lelaki yang berjalan dengan tongkat itu terus mengumbar senyum dan langsung memberondong sejumlah pertanyaan. Pertanyaan yang pertama dia sodorkan adalah, ”Kepala Kementrian Luar Negeri-nya siapa? Alex Alatas, ya?” ujarnya.

Maksud Aman dengan nama Alex Alatas adalah Ali Alatas. Aman karib memanggil Ali Alatas dengan nama Alex. Mereka berdua akrab saat Ali bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Thailand. Ketika itu, Aman menjadi salah seorang staf di KBRI Thailand.

Saat Jawa Pos mengatakan bahwa Ali Alatas sudah meninggal tahun lalu, Aman kaget. Dia terhenyak dan matanya tiba-tiba sembab. Dia tak menyangka teman ngobrol saat bertugas di KBRI itu sudah tiada. ”Sudah meninggal ya,” katanya lirih.

Lelaki asli Bandung itu adalah mantan anggota Heiho, pasukan bentukan Jepang untuk menjaga kekuasaannya di Indonesia. Para anggota Heiho diambil dari orang-orang pribumi. Awalnya, pasukan itu dibentuk untuk membantu pekerjaan kasar tentara Jepang. Namun, lambat laun, karena kebutuhan pasukan meningkat, Heiho naik pangkat. Mereka boleh mengangkat senjata. Bahkan, beberapa di antara mereka dikirim ke beberapa medan perang. Salah satu di antara adalah Thailand.

Aman menuturkan, dirinya dipanggil menjadi tentara Heiho pada 1942. Bapak empat anak itu menjalani serangkaian pelatihan di daerah Bandung. Menurut Aman, pelatihan tentara Heiho sangat berat. Anak buah salah sedikit, komandan main pukul. Pernah, Aman kurang dalam menekan pedal kopling mobil jip. Akibatnya, laju jip tersendat-sendat. ”Saya disuruh turun, kemudian kepala saya dipukul,” katanya sambil menunjukkan pelipis kiri dan kanannya.

Selain itu, saat latihan baris berbaris, tiap anggota dibekali kayu sepanjang sekitar satu meter. Kayu itu ibarat senjata bagi calon tentara Heiho. ”Kami disuruh baris. Kayu itu kemudian ditusukkan ke perut. Tidak boleh jatuh, kalau jatuh dihukum,” katanya.

Pada 1944, Aman dibawa ke Thailand. Ketika itu, pasukan Jepang hendak menghadang pasukan Sekutu yang mau menyerbu Indonesia. Namun, saat sampai di Thailand, sejumlah anggota pasukan ciut nyali. Mereka beranggapan, melawan Sekutu seperti bunuh diri. ”Badan anggota pasukan Sekutu besar-besar. Senjatanya bagus-bagus. Nanti kena pelor mati,” tutur Aman.

Sembilan orang di antara mereka memutuskan”desersi”, termasuk Aman. Selain Aman, mereka adalah Abdulkirom, Nasim (keduanya dari Jakarta), Basih dari Cirebon, Mamad dari Sukabumi, Ateng dari Majalaya, Endang Suriapi dari Bandung, Suganda dari Cianjur, dan Sobandi dari Bogor.

Begitu mendarat di pelabuhan Bangkok, mereka langsung kabur. Beberapa di antara mereka bersembunyi di kampung Jawa di Distrik Sathorn, pusat kota Bangkok, sebuah perkampungan tempat perantauan asal Jawa menetap. ”Saya bersembunyi di masjid Jawa. Saya bersembunyi di balik tumpukan sajadah,” ujarnya mengenang masa-masa pelarian itu.

Agar tak diendus tentara Jepang, mereka berpencar. Setiap hari mereka menginap di tempat-tempat berbeda. Setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada Agustus 1945, Aman dan rekan seperjuangan baru merasa tenang. Apalagi, pemerintah Thailand tak terlalu asing dengan orang Indonesia perantauan.

Sejatinya, Aman ingin pulang ke Indonesia. Namun, karena tak ada biaya, dia lantas bekerja serabutan di Bangkok. Beberapa pekerjaan dia jalani. Mulai tukang reparasi mesin jahit, pekerja serabutan di pelabuhan, hingga sopir. Ganti-ganti pekerjaan itu dia lakoni.

Suatu ketika dia memperbaiki sebuah mesin jahit milik seorang staf KBRI. Seringnya berinteraksi membuat staf tersebut menawarkan Aman bekerja di KBRI. ”Mau kerja nggak. Ini ada lowongan,” katanya.

Aman langsung menyambut tawaran itu. Apalagi, lowongan itu pas dengan kemampuannya, yakni menjadi sopir KBRI. ”Saya dulu kan sering membawa mobil gerobak (pikap, Red). Itu sudah pekerjaan saya,” katanya.

Tidak semua para mantan tentara Heiho menetap di Thailand. Begitu sudah punya uang cukup, beberapa di antara mereka pulang kampung. Namun, tidak demikian halnya dengan Aman. Beberapa tahun menetap di Thailand, dia kemudian menikah dengan Kamila, seorang wanita keturunan Tionghoa dari Indonesia yang lahir di Thailand.

Pernikahan mereka menghasilkan empat anak. Yaitu, Kamnung, Kamron, Sumon, dan Kamnvan. Semua diberi nama belakang Naradjebhusit. Aman lupa mengapa menggunakan nama itu sebagai nama keluarganya. ”Katanya, biar sama dengan orang Thailand lainnya,” ujar Kamron, lantas terkekeh.

Para eks tentara Heiho lantas membuat komunitas. Anggotanya adalah para tentara yang kabur saat melawan sekutu. Namun, karena usia, satu per satu di antara mereka meninggal. Aman adalah satu-satunya anggota Heiho yang masih hidup di Thailand. Tiap ingat para koleganya itu, Aman sering meneteskan air mata. ”Saya kangen punya kawan untuk diajak ngobrol,” katanya.

Kendati sudah beranak pinak di Thailand, Aman masih punya harapan untuk kembali pulang. Dia ingin berjumpa dengan tiga saudaranya. ”Saya tidak tahu apakah mereka masih hidup,” ujarnya lirih.

Rumah Aman di Bandung berada di kampung Cikadut, Sukamiskin, Kota Bandung. Rumah itu berdiri di seberang Rumah Tahanan Sukamiskin. ”Dari rumah saya tinggal nyeberang ke buian maksudnya rutan, Red),” tuturnya.

Saat Aman pergi ke Thailand, tiga saudaranya tinggal di rumah itu. Mereka adalah Atisah (anak pertama), Rukimah (anak kedua), dan Salmah (anak ketiga). Aman adalah ragil di antara empat bersaudara itu. Bapaknya bernama Mad Isak. Sejak ”bertugas” ke Thailand, Aman tak pernah tahu kabar mereka. ”Makanya, saya ingin pulang. Apa mereka masih hidup atau tidak,” katanya.

Untuk mengobati kerinduannya akan Indonesia, Aman selalu menonton pertandingan sepak bola dan bulu tangkis, terutama yang dimainkan pemain Indonesia. Kadang di televisi, kadang datang langsung ke lokasi pertandingan. Dia masih bisa mengingat pemain-pemain legendaris dua cabang olahraga itu. ”Saya suka Tan Joe Hock. Bukan main, hebat. Kalau dia main, hati saya ikut gemetar,” katanya. Di olahraga sepak bola, nama yang selalu lekat di hati Aman adalah Abdul Kadir.

Sampai sekarang Aman selalu ingin pulang. Salah seorang staf KBRI menuturkan, suatu ketika, Aman mendatangi KBRI di Bangkok. Di sana dia menemui beberapa staf dan menyampaikan keinginannya untuk pulang. Staf KBRI balik bertanya, memang Aman punya duit berapa untuk pulang? Aman menggeleng. Tak ada duit sepeser pun. ”Saya bilang ke Pak Aman, kalau nggak ada duit nggak bisa pulang. Butuh duit banyak,” ujar staf bagian humas itu, lantas tersenyum. (nw)

http://www.jawapos.co.id

6 Tanggapan to “Aman Issa, Mantan Tentara Heiho yang Terdampar di Thailand”

  1. makasi beritanya mas jadi tambah pengalaman ni …

  2. […] Aman Issa, Mantan Tentara Heiho yang Terdampar di Thailand … […]

  3. Apakah saya bisa mendapatkan kontak Agung Putu Iskandar, sang penulisnya. Mohon infonya. Terima kasih sebelumnya.

  4. Assalamualaikum wr.wb Selamat Malam dunia,ini kisah pilu dari anak bangsa yang telah berjuang untuk negara Republik Indonesia,mereka di paksa olah tentara Jepang untuk menjadi tentara demi Jepang agar tak di serang Sekutu,ye ini pengalan cerita sedih dari sebanyak jumlahnye 42.000 orang,dan ini salah satu dari sekian banyaknye para EK Tentara HEHO” menurut catatan Sejarah Pembentukken tentara HEIHO Aman menuturkan, dirinya dipanggil menjadi tentara Heiho pada 1942. Bapak empat anak itu menjalani serangkaian pelatihan di daerah Bandung. Menurut Aman, pelatihan tentara Heiho sangat berat. Anak buah salah sedikit, komandan main pukul. Pernah, Aman kurang dalam menekan pedal kopling mobil jip. Akibatnya, laju jip tersendat-sendat. ”Saya disuruh turun, kemudian kepala saya dipukul,” katanya sambil menunjukkan pelipis kiri dan kanannya.

    Selain itu, saat latihan baris berbaris, tiap anggota dibekali kayu sepanjang sekitar satu meter. Kayu itu ibarat senjata bagi calon tentara Heiho. ”Kami disuruh baris. Kayu itu kemudian ditusukkan ke perut. Tidak boleh jatuh, kalau jatuh dihukum,” katanya.”Sebanyak 24.000 tentara Heiho di bentuk,dan insya Allah masih banyak yang masih hiudp,ku berharap nasib mereka para Vetran Perang apapun jua dapat hiudp layak di tengah masyarakat yang telah Merdeka,agar cerita pilu sang veteran-vetaran di muke BHUmi ini merasakan alam Kemerdekaan yang bis ebuat mereka hidup layak dan nyaman,tenang dalam kecukupan,Ingat tanpa para Veteran Perang apepun jua,kite ini Bangsa IndONESIA RAYA,tak akan Merdeka,wasalam,tq God,tq Jawa Pos atas berita nan bermanfaat ini, salam tanpa wartawan,Para Reporter baik Media Cetak,pun Media Eletronik kite tak dapat info dunia, yang setiap hari memuat berita yang hade linenye selalu beragam,tergantung dari Peristiwa yang tengah heboh,dan layak di tulis maupun di beritakan,so salam jayalah selalu Awak Media Cetak dan Media Eletronik,sekian teriama kasih!!!***

  5. …Kakek saya juga adalah mantan tentara Heiho, sebagaimana pak Aman. Kakek juga sering bertutur mengenai perjuangannya pada saat menjadi tentara bentukan Jepang. Namun, kakek saya nampaknya lebih beruntung sebab ia masih tinggal di Indonesia. Kakek kelahiran Banda Aceh namun tidak pernah lagi pulang ke kampung halamannya sejak menikah dengan Nenek di Tana Toraja, Sulsel.
    Kakek tak tega meninggalkan nenek dan anak-cucunya di Tana Toraja. Sekitar 10 tahun lalu nenek meninggal dan kakek ingin pulang ke Aceh, namun sayangnya karena bencana tsunami yang menimpa Aceh beberapa tahun silam membuat kakek tidak lagi mengetahui keberadaan keluarganya di sana.
    kakek saya kini berusia lebih dari 100 tahun dan setahun ini sudah sakit-sakitan.
    Kakek sering menyanyikan lagu-lagu melayu tanda kerinduan ingin pulang. Kakek saya adalah pahlawan (pejuang kemerdekaan) yang paling saya banggakan karena paling saya tahu perjuangannya.
    Nama Kakek Bagad Ujang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: