Kacier Kusuma's Blog
where I share my knowledge useful

Bahasa Gaul dan Remaja

Sudahkah anda berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Pernyataan tersebut sering kita temui di berbagai kesempatan. Baik pada buku pelajaran maupun iklan-iklan di televisi. Memang slogan tersebut sangat penting agar masyarakat Indonesia mau memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Alasan lain dikarenakan di Indonesia sekarang sudah menjamur bahasa ABG. Bahasa ABG sering disebut Bahasa Gaul. Tak tau pasti asal muasal bahasa gaul itu. Bahasa gaul tentu sangat berbeda dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa gaul tidak mengikuti kaidah bahasa baku. Sehingga sangat fleksibel dan mudah dipakai.
Jika slogan diatas diplesetkan menjadi “sudahkah anda berbahasa gaul?” Tentu remaja berada pada urutan pertama yang memakai bahasa gaul sebagai bahasa sehari-hari. Tetapi slogan tersebut kurang pantas karena dapat melecehkan bahasa Indonesia baku yang menjadi bahasa pemersatu di Indonesia. Slogan yang pantas bagi bahasa gaul adalah “gunakan bahasa gaul seperlunya saja”. Alasannya karena memang bahasa gaul bukan bahasa nasional di Indonesia.
Bahasa ABG cenderung memilih ragam santai sehingga tidak terlalu baku. Ketidakbakuan ini tercermin dalam kosakata struktur kalimat dan intonasinya. Untuk menghindari pembentukan kata dengan afiksasi, bahasa ABG menggunakan proses nasalisasi yang diiringi dengan penambahasan akhiran ‘in’. Misalnya ‘memperpanjang’ menjadi ‘manjangin’. Memang tak bisa dipungkiri jika bahasa gaul sangat populer di Indonesia. Tak hanya digunakan untuk bahasa sehari-hari, bahasa gaul juga dipakai dalam penulisan majalah dan novel remaja. Dengan bahasa gaul diharapkan dapat memicu remaja untuk membaca dan menikmati wacana tersebut.
Bahasa gaul yang timbul di masyarakat memang sangat beragam. Ada beberapa kelompok masyarakat yang menciptakan bahasa gaul sendiri. Misalnya pada sekelompok waria, mereka menambahkan ‘ong’ pada setiap katanya. ‘Laki’ mereka sebut dengan ‘lekong’. Selain itu di Jakarta, orang-orang biasa memakai bahasa ‘loe’, ‘gue’ yang menggantikan aku dan kamu. Ciri khususnya adalah tidak mengacu pada kaidah bahasa Indonesia. Setiap kata ditambah ‘in’. misalnya kata ‘bawa’ menjadi ‘bawain’, ‘tanya’ menjadi ‘nanyain’.
Selain itu, bahasa gaul ini sering di sebut dengan bahasa santai dialek Jakarta. Dikarenakan bahasa gaul tersebut merupakan bahasa seharu-hari masyarakat Jakarta. Namun dengan berjalannya waktu bahasa gaul ini banyak dijumpai di kalangan remaja pedesaan dan di seluruh Indonesia pada umumnya. Hal itu diakibatkan karena seringnya siaran televise yang menggunakan bahasa gaul.
Ragam bahasa ABG memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti ‘permainan’ menjadi ‘mainan’, ‘pekerjaan’ menjadi ‘kerjaan’. Meskipun kata-kata tersebut mengalami perubahan proses morfologi, namun secara semantik tak berubah maknanya. Misalnya, kata ‘mainan’. Kata tersebut meskipun telah mengalami perubahan morfologi tetapi secara semantik artinya tetap yaitu melakukan sesuatu (permainan).
Bahasa gaul dapat timbul dari iklan di televisi, lirik lagu, maupun ragam sms. Bahasa iklan dan lirik lagu biasanya sangat mempunyai peranan penting bagi remaja. Misalnya kata ‘cepek deh’ sangat sering digunakan remaja dalam kesehariannya. Bahkan anak-anak kecil pun ikut menirukan kata-kata tersebut. Sedangkan pada lirik lagu, misalnya kata ‘ mara-mara mara-mara itu gak perlu, udahan maranya cepetan dong cepetan’. Pada novel-novel remaja juga ditemukan bahasa gaul tersebut. Misalnya dalam judul novelnya saja menggunakan bahasa gaul, ‘cintapucino’.
Untuk menunjang keberadaan bahasa gaul, saat ini juga terbit kamus bahasa gaul. Sehingga kita dapat dengan mudah memakai bahasa itu. Tetapi bedanya aturan bahasa gaul cenderung tidak konsisten sehingga untuk mempelajarinya kita harus banyak menghafal.
Akibat timbulnya bahasa gaul tersebut menimbulkan suatu pertanyaan baru. Apakah bahasa gaul tersebut tidak mengganggu eksistensi bahasa Indonesia yang baik dan benar? Bagaimana caranya membatasi bahasa gaul dan menggalakkan pemakaian bahasa Indonesia? Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut, sejauh pemakaian bahasa gaul secara wajar tidak akan mengganggu eksistensi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan tetap digunakan masyarakat Indonesia. Alasannya karena bahasa Indonesia memang bahasa pemersatu bangsa. Meskipun saat ini bahasa gaul lebih disukai.

Satu Tanggapan to “Bahasa Gaul dan Remaja”

  1. Boleh tahu apa kriteria bahasa yg baik dan benar?

    Kalau menurut saya, bahasa gaul tidak masalah selama bahasa itu dipakai sesama remaja itu sendiri. Akan sangat aneh dan menimbulkan kesan yg berbeda apabila bahasa Indonesia yg baku digunakan kalau tidak pada konteksnya. Untuk konteks akademik, bahasa baku memang harus digunakan. Tetapi untuk pergaulan dan obrolan sehari-hari, saya rasa bahasa Indonesia tidak akan terancam dengan keberadaan bahasa gaul ini.

    Beberapa bulan ini memang saya akui bahasa remaja mulai tidak bagus. Terutama mengubah kata, contohnya: maaf menjadi 5f, siapa menjadi capa. Untuk masalah yg satu ini, saya setuju bahwa remaja harus diberikan pengarahan. Karena bahasa semacam ini, tidak akan bisa dipahami karena susunannya yg tidak benar. Apalagi penggunaannya di ruang publik, wih bisa bikin senewen karena kita harus meraba-raba apa maksud dari kalimat mereka. heu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: